26. Persepsi ulama Kota Semarang terhadap zakat batu akik

ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya pecinta batu akik di Kota Semarang, meliputi perajinan, penjualan, pembelian dan perlombaan yang diselenggarakan di Kota Semarang. Harganya mulai dari puluhan ribu hingga ratusan  juta  rupiah  tergantung  jenis  dan  kwalitas.  Konsumen  di Semarang membeli batu akik bisa untuk sekedar dipakai bisa juga dikoleksi atau investasi ataupun sekedar ikut-ikutan saja karena sedang tren. Mereka tidak menyadari tentang  batu  akik,  apakah dizakati  atau  tidak.  Berangkat  dari  permasalahan tersebut penelitian ini akan akan  mengfokuskan pada persepsi ulama di  Kota Semarang terhadap zakat batu akik.
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research). Data yang di peroleh melalui wawancara, dan dokumentasi. Sementara metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode interview. penelitian ini dilakukan wawancara kepada 10 ulama Kota Semarang sebagai informan, ulama yang menjadi informan terdiri dari ulama NU, ulama Muhammadiyah dan ulama MUI yang berada di Kota Semarang, sehingga hasil dari interview tersebut yang dijadikan data primer. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif analisis.
Hasil penelitian menunjukkan: 1. Batu akik jika dilihat persepektif mal (harta) dalam Islam memenuhi syarat untuk dikategorikan sebagai harta (mal), apabila  telah  mencapai  nishab  dan  haul maka  batu  akik  itu  wajib  dizakati. 2. Persepsi ulama Kota Semarang mengenai zakat batu akik yaitu: Semua ulama sepakat bahwa semua jenis harta bila telah mencapai nishab dan haul wajib dikeluarkan zakatnya. Mayoritas ulama mewajibkan zakat pada batu akik dan ada satu  yang  tidak. a.  Ulama  yang  mewajibkan  zakat  atas  batu  akik  terdapat perbedaan dalam mengeluarkan zakat batu akik, yaitu:
1.  Batu akik dikeluarkan zakatnya sebagai zakat kekayaan (mal)
2.  Batu  akik  yang  diperjulbelikan  di  keluarkan  sebagai  zakat  tijarah  atau perdagangan,
3. Batu akik wajib dikeluarkan zakatnya sebagai zakat emas dan perak. Akik yang disimpan, diinvestasikan atau dikoleksi.
4.  Batu  akik  termasuk  jenis  barang  tambang  (ma’din)  dikeluarkan  zakatnya sebagaimana barang tambang (ma’din).
b. Ulama yang menyatakan tidak ada kewajiban zakat pada batu akik. Batu akik jelas tidaklah dizakati kecuali bila diperdagangkan. Karena harga yang fluktuatif maka zakat dihitung pada harga ketika akhir dari haul batu akik tersebut. Kadar, nishab seperti zakat tijarah karena itu merupakan zakat tijarah, bukanlah zakat akik.
Batu akik merupakan jenis batu permata yang digunakan perhiasan dan termasuk jenis kekayaan yang dapat dipakai investasi, maka dikeluarkan zakatnya seperti emas dan perak, nishabnya seharga 85 gram emas murni dan kadarnya 2,5%.  Zakat  dihitung  pada  harga  ketika  akhir  dari haul  batu  akik  tersebut mengikuti harga pasaran.


26. Persepsi ulama Kota Semarang terhadap zakat batu akik adalah yang barusan kamu baca.



Cukup 50RIBU saja, kamu akan dapatkan file Lengkapnya BAB 1 sampai PENUTUP 26. Persepsi ulama Kota Semarang terhadap zakat batu akik




Rp. 100.000 = 4 File Skripsi Lengkap
(File yang dapat Anda request hanyalah file yang terdapat di web/blog yang sedang kamu kunjungi sekarang ini dan juga klikskripsi.com / fileskripsi.com / koleksiskripsi.com)
Untuk Thesis = Rp. 100.000/File Lengkap



26. Persepsi ulama Kota Semarang terhadap zakat batu akik


Belum ketemu Referensi Judul yang kamu cari? Coba Klik Icon Search Ketik referensi Judul Skripsi yang kamu cari.

Jika Referensi yang kamu cari tidak ada disini coba cek di www.fileSkripsi.com atau www.KoleksiSkripsi.com atau www.KlikSkripsi.com

Bingung belum punya judul Skripsi, tidak perlu kawatir ada RIBUAN file referensi Skripsi Klik disini

Belum ada Komentar untuk "26. Persepsi ulama Kota Semarang terhadap zakat batu akik"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1



Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel


close
WhatsApp Klikskripsi